Asal-usul Hantu Pocong Wati yang Menebar Teror di Temanggung
Pocong Wati diperkirakan populer sekitar tahun 1980an di daerah Temanggung, Jawa Tengah. Pocong ini kerap menghantui warga di desa sana dengan menggedor pintu dengan kepalanya ataupun sekedar usil menampakkan dirinya untuk menakut-nakuti warga.
Pocong Wati dulunya merupakan seorang gadis bernama Sukowati yang tinggal di desa bersama keluarganya. Wati berasal dari keluarga yang terhormat, kakeknya pernah menjabat menjadi seorang lurah.
Wati tinggal bersama kedua orang tua dan neneknya, ia adalah anak tunggal. Pada usia 8 tahun ibunya meninggal, tersisa neneknya, dia dan ayahnya. Wati tumbuh menjadi gadis cantik, santun dan cerdas ia bahkan menjadi kembang desa.
Setelah lulus SMA Wati memutuskan untuk bekerja di kantor kelurahan. Pada tahun 1973 saat Wati berusia 23 tahun ayahnya meninggal, kini ia tinggal bersama neneknya saja dan terpaksa harus menjadi tulang punggung.
Kian hari neneknya bertambah tua dan sering sakit-sakitan karena itu Wati membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan neneknya dan biaya hidup sehari-hari. Hidup merekapun semakin melarat. Satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari kemiskinan yaitu Wati harus menikah.
Tidak sulit bagi Wati dengan parasnya yang cantik untuk memikat hati para pria mapan. Bahkan beberapa pria berani sudah mendatangi rumahnya untuk meminang Wati, tidak hanya para pria desa bahkan pria dari luar desa pun ikut serta berlomba-lomba mendapatkan hati Sukowati.
Namun dari sekian banyaknya lamaran Wati tetap saja menolak karena ia memiliki lelaki idaman yang tak lain adalah pacarnya sendiri yaitu Bondan. Wati dan Bondan sudah saling kenal sejak mereka duduk di bangku SMP.
Akan tetapi hubungan mereka tidak pernah direstui oleh keluarga mereka masing-masing, diketahui keluarga mereka memang sudah lama menjadi musuh. Singkat cerita dulu kakeknya Bondan adalah saingan politiknya kakek Wati, karena kakek Wati yang menang menjadi lurah akhirnya keluarganya Bondan membenci keluarga Wati.
Meski begitu mereka tetap menjalin hubungan diam-diam karena sudah saling mencintai satu sama lain. Hingga pada akhir tahun 1970an Bondan terpaksa harus menikah dengan wanita lain yang sudah dijodohkan oleh keluarganya. Mirisnya dikabarkan jika Wati tengah hamil anaknya Bondan.
Saat itu Bondan berjanji untuk menikahi Wati namun ia tidak bersungguh-sungguh akan hal itu. Selain sakit hati Wati juga harus menanggung rasa malu karena ia hamil di luar nikah, mengingat jika ia merupakan gadis desa yang terhormat.
Pada suatu hari tetangga yang melewati rumah Wati sedikit khawatir karena sudah beberapa hari mereka tidak melihat nenek Wati yang biasa duduk di kursi depan rumah, selain itu mereka juga mencium bau busuk dari arah rumah tersebut.
Beberapa orang memutuskan untuk pergi ke rumah Wati memastikan semuanya baik-baik saja. Ketika sampai disana ternyata pintunya tidak terkunci, terdapat nenek Wati yang terbaring lemas tak berdaya. Ketika para tetangganya ini masuk nenek Wati langsung membuka matanya dan mengangkat tangannya menunjuk ke arah kamar Wati.
Ketika ditanya apa ia sakit nenek Wati hanya bisa bergumam sambil menunjuk kamar Wati, kali ini ia sambil menangis. Saat mereka pergi ke kamar Wati ternyata pintunya terkunci, bau busuk pun mulai tercium sangat jelas dari dalam kamar. Mereka memutuskan untuk mendobrak pintu tersebut.
Alangkah mengejutkan ketika mereka melihat Wati yang tergantung sudah tak bernyawa dengan perut yang besar, diketahui ia sudah hamil selama enam bulan. Kondisinya sudah amat mengkhawatirkan karena diperkirakan ia telah wafat sekitar tujuh hari yang lalu. Wati meninggal karena gantung diri menggunakan sarung yang diikat ke kayu atap rumah.
Penemuan jasad Wati tersebut membuat geger seisi kampung, pasalnya Wati meninggal dengan cara yang tidak wajar. Tak sedikit warga juga yang takut jika Wati akan bergentayangan. Dan hal itu memang benar-benar terjadi, seperti cerita dari seorang warga desa bernama Dedi yang sempat kena usil arwah Wati.
Disuatu malam Dedi hendak pergi ke kali untuk buang air besar. Kamar mandinya hanya terdiri dari bilik yang menutupi hingga setengah badan jika jongkok. Sesampainya disana Dedi melihat ada pak Sulam yang sedang buang air besar juga. Dia sedikit lega, lalu ia mencairkan suasana dengan mengajak ngobrol.
" Pak gak takut malam-malam begini sendirian disini? " Ujar Dedi
"Emangnya takut apa? " Sahut pak Sulam.
"Itu loh pak, mba Wati"
Namun tak terdengar suara pak sulam lagi ketika Dedi bertanya tentang Wati. Setelah itu ia coba mengintip dan benar saja tidak ada seorangpun disana hatinya mulai gelisah.
Akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah karena ketakutan, ditengah jalan Dedi terpeleset. Ketika bangun ia melihat dari kejauhan seperti karung beras dengan ukuran yang besar didepan rumah salah seorang warga.
Anehnya karung beras tersebut bergerak sendiri, ketika Dedi semakin dekat ternyata itu pocong. Pocong tersebut terlihat sedang menggedor pintu warga dengan kepalanya, gedorannya terdengar sangat keras. Dedi lari terbirit-birit masuk kerumahnya.
Ia berhasil masuk ke rumah dan menenangkan diri namun kali ini ia mendengar suaranya semakin dekat. Kali ini suaranya berasal dari depan pintu rumahnya, Dedi mendengar suara tersebut selama 10 menit lamanya. Hingga akhirnya pocong tersebut pergi ke rumah di sebelah.
Lain cerita nenek Wati menghampiri kerumunan orang-orang yang sedang mengobrol di depan mushola, ia berkata jika Wati sudah pulang dan membawa bayi. Namun orang-orang tidak percaya, hal itu dibuktikan ketika salah satu warga bernama Sarjono memastikan perkataan si nenek. Dirumahnya tersebut tidak ada siapa-siapa hanya ia seorang.
Sarjono yang tidak percaya akan hal-hal mistis berpendapat jika nenek Wati sudah gila karena di tinggal oleh cucu semata wayangnya tersebut. Hingga di suatu maghrib Sarjono pulang dari pekerjaanya menaiki sepeda ontel, ketika itu langit belum sepenuhnya gelap.
Dari kejauhan Sarjono melihat seorang wanita menggendong bayi dengan selendang putih, semakin mendekat Sarjono melihat darah dari belakang tubuh wanita tersebut. Ia mulai menyadari ada hal yang aneh, ketika pernapasan dengannya benar saja itu adalah Wati. Wati menyapa Sarjono, ia lemas bak disambar petir. Sarjono kabur lari meninggalkan sepeda ontelnya.
Kabar dari Bondan pun katanya dia depresi setelah mengetahui apa yang terjadi dengan mantannya tersebut, Wati. Pernikahannya dengan wanita lain itu hanyalah seumur jagung tidak sampai hingga 1 tahun.
Bahkan ada yang pernah melihat Bondan di kuburan Wati sambil menggaruk-garuk kepalanya hingga berdarah. Ia menjadi gila dan kerap kali berkata "Wati aku ikut". Warga setempat percaya jika Wati meneror Bondan hingga Ia kehilangan akal. Pada akhirnya Bondan juga tewas karena gantung diri di usia 60 tahun.
Terdapat beberapa versi mengenai pocong Wati ini, yang diatas berikut merupakan salah satu versi yang paling terkenal mengenai asal-usul pocong Wati. Terimakasih sudah membaca, jika ada kekeliruan atau informasi yang kurang boleh isi kolom komentar di bawah.
Mau lihat produk terbaru di Shopee? Yuk segera temukan barang dan makanan yang Anda inginkan dengan harga terjangkau di link berikut 👇
https://mycollection.shop/rissa0110

Mantap
BalasHapusTerus lah berkarya yah....
BalasHapusThank yuhhh
Hapus