Cerpen: Gaun Merah Maria
Menyelinap kedalam rumahnya melangkah selembut kedipan mata berusaha untuk tidak membuat kegaduhan. Melihatnya tertidur pulas diatas ranjang, mendekat dengan perlahan ku tarik selimut yang menutupi tubuh kurusnya. Kuayunkan celurit ditangan, mendarat dipunggungnya menembus baju dan kulit seketika cairan merah menyembur mengalir deras mengenai wajahku. Teriak kesaktiannya hanya beberapa detik, setelah itu ia lemah tak berdaya. Menyisakan aku dan tubuhnya tanpa nyawa, ku tinggal kan saja ia disana karena aku mengantuk.
Tiga tahun berlalu dari kejadian itu rasanya aku tak akan pernah bisa melupakannya, bukan karena apa yang ia buat melainkan cintaku lebih besar dari rasa kesalku.
Maria terdiam sejenak mematung terpana melihat gaun merah selutut yang terpampang diantara gaun-gaun lainnya.
" Cantik sekali gaunnya, andai aku bisa membawanya pulang " Ia melangkah maju memandangi gaun merah dengan corak bunga menonjol diseluruh bagian, tertera disana Rp. 300 ribu bahkan upahku untuk satu minggu masih setengah dari harga gaun itu.
" Kita tak punya cukup uang untuk itu, kau bilang ingin makan bakso. Mari cari bakso " Segera aku alihkan keinginannya. Maria mengerucutkan bibir merahnya, kecewa.
Semilir asap mengepul dari dapur menyesakkan hidung Maria memasak tempe orek , melayaniku seperti biasanya dia adalah istri yang baik. Ku puji selalu masakannya memang belum pandai ia memasak namun apapun yang disentuhnya pastilah nikmat.
Pagi yang sejuk masih tercium bau embun yang membasahi jalan, aku pergi menuju rumah Saleh seorang supir angkot yang menjadi rekan kerja ku selama satu tahun terakhir. Menarik angkot bersamanya aku duduk dibelakang menjadi kondektur setia. Bekerja demi sesuap nasi dan memenuhi keinginan Maria istri kesayanganku.
Langit senja menemaniku pulang kerumah, membuka pintu dan menyebut salam. Maria menyambutku.
" Mas pulang cepat hari ini, maaf aku belum sempat masak untuk makan malam kita" Maria memasang wajah bersalah matanya yang lebar terlihat sayu berbinar.
" Tidak apa, ini kan malam minggu. Kita bisa cari makanan diluar " Ujar ku tak keberatan dengan pernyataannya.
Makan malam diluar saat malam minggu itu adalah tradisi kami, aku yang memutuskannya karena sejak pernikahan kita setahun lalu aku belum bisa mengajaknya pergi berbulan madu.
" Kita pergi ke pasar malam saja ya Mas, ke warung bakso pak Ali " Maria berdandan mengenakan gaun berwarna ungu muda selutut, bibir nya dipoles dengan gincu merah merona. Aku menyetujuinya.
Berjalan diantara ratusan pengunjung, riuh,sesak padat sekali malam itu. Maria menggenggam erat tanganku menarikku pergi ketempat yang ia mau, matanya menyapu melirik kesana kemari memperhatikan barang-barang yang menggodanya.
Warung bakso Pak Ali menjadi tempat singgah kami waktu itu, bukan kali pertama memang tapi Maria tak pernah bosan dengan Mie ayam Pak Ali.
" Bulan depan hari ulang tahunmu , kamu mau aku belikan apa" Sengaja ku tawarkan dia jauh-jauh hari agar aku memiliki waktu untuk menabung.
" Apa saja, yang penting bisa berguna bagi ku" Permintaannya memang tak pernah muluk-muluk, ia mengerti akan kondisi ku.
Malam terasa lebih dingin pasar yang semula ramai kini lengang, hanya beberapa orang saja yang masih berlalu-lalang menyisakan para pedagang yang terlihat lelah. Melewati tempat semula lagi-lagi Maria memberhentikan langkahnya didepan gaun merah yang masih apik berdiri tanpa ada yang menyentuhnya.
" Masih belum ada yang membelinya, padahal begitu cantik" Maria mendongakkan kepalanya memandangi gaun itu.
" Menurut ku kamu lebih cantik dari gaun itu" Aku berkata jujur memang begitu kenyataan nya.
"Kamu ada-ada saja mas" Maria tersipu malu.
Sejak saat itu aku tahu apa kado istimewa untuk ulang tahunnya nanti, melihat harga nya membuat dompetku semakin bergetar. Harus lebih dari satu bulan untuk mengumpulkan itu. Siapalah aku ini untuk makan sehari-hari saja harus mengirit, sok-sokan membelikan istri gaun mahal.
*****
" Leh, aku mau ikut narik di hari sabtu dan Minggu ya. Aku butuh uang untuk merenovasi rumah" Pintaku sedikit berbohong, mengorbankan jatah liburku untuk mendapatkan uang tambahan.
"Siap! Tapi dihari itu Bapak ku yang narik.Soal upah tak perlu khawatir" Jawab Saleh
Tertunduk lesu didepan tungku Maria menyanggah dagunya dengan tangan menatap kuali menunggu lauk yang dimasaknya matang.
" Hari ini aku hanya masak tahu, kita belum bayar listrik mas. " Maria berjalan menghampiriku menghidangkan Tahu dan nasi yang sudah dipasaknya.
" aku akan kerja di hari sabtu dan minggu nanti upahku jadi 200 ribu perminggu, cukup untuk bayar listrik " Aku mencoba menenangkannya.
" Jika begitu kapan kamu punya waktu buat ku mas, kamu pergi pagi pulang malam. Aku takut sendiri dirumah " Keluhnya.
" Apa yang kamu takutkan, rumah Ibu disebelah. Jika membutuhkan sesuatu bisa pergi kesana, lagi pula tak ada orang jahat disekitar kita"
Tak ada senyuman manis dibibirnya untuk menyambutku, nampaknya Maria sedikit muram mungkin dia lelah. Aku mengecup keningnya dan mengelus kepalanya.
" Kamu pasti lelah, maafkan aku ya belum bisa jadi suami yang baik."
" Kamu sangat baik mas Jafar. Aku saja yang terlalu manja" Maria akhirnya tersenyum.
Sabtu itu aku pergi bekerja tak seperti biasanya meninggalkan Maria seorang diri yang selalu menanti kedatanganku.
" Hati-hati mas, jangan pulang terlalu larut ya agar bisa bermalam mingguan " Maria merapikan rambutku dan menyemprotkan minyak wangi ke bajuku.
" Aku pasti pulang tepat waktu "
Ulang tahunnya semakin didepan mata, Maria tertidur pulas menjajal mimpi indahnya. Aku meraih lembaran uang didalam sarung bantalku tempat tabungan rahasiaku, kuhitung uangnya sudah terkumpul setengah dari harga gaun itu. Aku optimis untuk membelikan gaun itu semoga saja tidak ada yang menyentuhnya.
*****
Gaun merah itu benar-benar tidak ada yang menyentuhnya, memang tak begitu istimewa dimataku tapi aku yakin akan indah jika menutupi tubuh Maria dengan kulit kuning langsatnya dan badan yang langsing, tinggi semampai. Maria melirik sekilas mungkin ia tahu gaun itu tidak akan menjadi miliknya, sebab itu ia tak ingin memandanginya terlalu lama. Kali ini aku dan Maria tidak membeli apapun hanya sekadar mencuci mata.
Berjalan dibawah rembulan yang bersinar bulat sempurna membuatku dapat melihat wajah cantik Maria dengan jelas, ia tampak sedih wajahnya kalut matanya tak memancarkan aura bahagia. Betapa ia sangat menginginkan gaun itu.
" Jika aku memiliki uang, kamu bisa membelinya "
" Membeli apa?"
"Gaun merah itu"
Tak terlontar kata apapun dari mulut Maria ia sibuk dengan pikirannya yang aku pun tak tahu apa itu, menunduk menatap aspal.
*****
Esok adalah ulang tahunnya dan tapi tabunganku belum mencapai harga gaun merah tersebut. Kulihat Maria makin hari semakin sibuk dengan ponselnya, ia sedikit mengabaikanku. Bahkan ia sering termenung melamun didepan tungku.
Aku membaringkan tubuhku disamping maria memeluk erat tubuhnya dan mengecup mesra lehernya, dia menggenggam erat tanganku dan berbalik badan menatapku mengecup pipi kanan dan kiriku lalu kami bertukar oksigen. Aku tertidur dipelukan badan kecilnya.
Sayup sayup terdengar isak tangis aku mencoba membuka mata dan melihat Maria menangis tersedu-sedu didepan lemari tepat disamping tempat tidur.
"Maria, ada apa gerangan? apa kamu baik-baik saja?" Aku menghampirinya merangkulnya.
" Aku berdosa mas, aku akan masuk neraka hiks hiks" Entah apa yang Maria katakan aku sungguh tak mengerti.
" Apa maksudmu, berdosa karena apa?"
" Aku seharusnya menjadi wanita yang sabar dan tak banyak menuntut mu"
" Tidak Maria, kamu tidak salah. Aku yang salah, seharusnya aku bisa membahagiakanmu dan membelikan apa yang kamu mau. Aku minta maaf, Maria "
" Kamu lelaki paling baik, Mas "
*****
Sinar mentari menyapa bumi, pagi itu Maria belum terbangun dari tidurnya setelah semalaman menangis. Aku menyiapkan sarapan untuk nya meski hanya dengan segelas energen dan ubi kukus.
" Sayang, ini sudah pagi. Selamat ulang tahun" Aku mengecup pipi merahnya membangunkan Maria, mengelus pinggangnya dan memeluknya erat aku suka wangi rambutnya dipagi hari.
" Ada energen dan ubi kukus di meja."
"Hmmm" Maria menggeliat matanya terlihat sembab ia beranjak pergi ke kamar mandi.
"Hari ini aku akan pulang sedikit telat" Aku membohonginya.
" Benarkah, padahal ini ulang tahunku. Aku kita kau akan memberiku kejutan " Maria tertunduk sedih dimeja makan.
" Maafkan aku, aku tak punya cukup uang untuk memberimu kejutan " Aku tak mau membocorkan kejutan ku.
*****
Aku meminta saleh untuk memberhentikan ku didepan pasar malam, kali ini aku berjalan seorang diri. Menghampiri si penjual gaun merah itu, untungnya gaun itu masih terpajang disana. Kuraih gaun itu dan kubawa pulang tak kubalut dengan kertas kado hanya kantong plastik hitam. Hampir saja gagal memberinya kejutan, untung saja saja Saleh mau meminjamkan uang kepada ku.
Bahagia ku adalah bahagianya aku menenteng kantong plastik itu dengan hati yang berbunga.
" Mas sudah pulang, aku masak mie instant goreng dan telur untuk makan malam kita" Maria menyambutku.
Aku menatapnya dengan senyuman mencoba menyembunyikan gaun itu dibelakang badanku. Maria terheran dan seketika ia tersenyum seperti mengetahui isi kepalaku.
"Tada..." Ku sodorkan kantong plastik itu dan sontak Maria meraihnya dan membukanya.
" Gaun ini? " Maria terkejut matanya menyipit oleh senyuman yang tersungging dibibirnya.
"Bagaimana kau mendapatkan nya, mas?"
"Apapun yang kau mau aku akan membawanya, kau coba gaunnya" Aku tak ingin Maria tahu soal itu.
Maria berlari kekamar melepaskan semua pakaian yang ia kenakan. Begitu pas ditubuhnya, seakan gaun itu ditakdirkan untuk nya. Ia berputar ria memainkan gaunnya, kaki Maria yang elok nan mulus dengan pinggangnya yang ramping mengajak ku ingin bercinta malam itu juga.
*****
Aku pulang cepat sore ini Maria meminta ijin pulang kerumah ibunya yang ada disebelah rumah kami, ia hendak menghabiskan malamnya disana. Aku tak akan melarangnya mungkin ia ingin mengenang masa kecilnya.
" Kamu tidak perlu menemani ku, tapi jika kau ingin silakan saja" Maria beranjak pergi meninggalkan ku.
Kubiarkan Ia menghabiskan malamnya di sana mengijinkan nya menjadi gadis remaja dalam semalam.
Esok hari tiba Maria terlihat murung membolak-balikan tempe yang Ia goreng dengan lesu, nampaknya gaun itu tidak membuat Maria bahagia.
" Jika aku bersalah, kau akan maafkan aku kan mas" Tanya Maria seraya menuangkan nasi pada piring ku.
" Tentu saja. Memang kau berbuat apa padaku"
Maria terdiam tak bergeming menyantap lauknya dengan perlahan tatapannya sendu.
Aku sedikit terheran dengan sikapnya.
Maria mengenakan gaun merah itu berdiri disampingku, aku menggenggam erat tangan lembutnya. Berjalan di malam yang syahdu, sesekali ia mendongakkan kepalanya menatap ku dan tersenyum. Kini ia tak lagi melewati toko tempat asal gaun itu.
Kami berputar-putar mengelilingi pasar mencuci mata kami. Aku membelikan se-cup es krim vanilla stoberi untuk berdua, kami duduk dibawah pohon ketapang beralaskan rumput. Maria menyuapiku es krim, dingin seperti malam tapi senyumnya hangat bagaikan mentari.
" Aku akan merindukanmu, mas" Mata indahnya berkaca-kaca.
" Mengapa kau berkata demikian.Aku selalu ada disampingmu Maria. Tak kan pergi jauh, tak kan tahan hidup tanpamu " Aku mengusap perlahan air mata yang jatuh dipimpinnya.
" Kau sungguh pria yang baik, maafkan aku jika terlalu banyak menuntut mu. Kau rela memberikan hidupmu padaku, terimakasih atas perjuanganmu " Maria menggenggam kedua tangan ku dan mencium nya.
" Kenapa kau ini, tak perlu meminta maaf tak perlu berterimakasih. Hidupku adalah hidupmu" Aku mengecup bibirnya.
Tak pernah terlintas dalam benakku jika itu adalah malam minggu terakhir bersama Maria. Tingkahnya semakin aneh pagi ini ia mencuci semua baju bersihnya.
" Kenapa kau cuci semua baju mu itu?"
" Agar bersih saja mas " Maria merendam baju-bajunya dalam baskom pagi-pagi buta.
" Tapikan itu semua baju bersih "
" Aku ingin lebih wangi saja mas " Jawabnya singkat lalu beranjak ke dapur menyiapkan sarapan.
Tak enak hati aku meniggalkan nya sendirian dirumah ia sepertinya sakit, entahlah mungkin pikirannya sedang kalut.
" Kamu harus pergi bekerja mas, aku baik-baik saja" Maria duduk di kursi belakang menatap kosong kearah jemuran bajunya.
" Kamu mau aku belikan apa untuk makan malam nanti, biar tidak perlu masak"
" Tidak usah, aku akan masak mas"
" Kamu sedang tidak sakit kan? Kenapa matamu seperti habis menangis? Cerita padaku " Aku mengelus lembut punggungnya merangkul dan memeluknya.
" Aku baik-baik saja mas, bentar lagi kamu kesiangan ayo aku antar ke depan pintu " Dia beranjak dari duduknya mengantarku ke depan pintu.
" Hati-hati ya mas, aku sayang kamu. Aku akan merindukanmu " Maria memeluk erat badanku seraya tersenyum menatap ku matanya berbinar.
" Aku juga sayang kamu, aku akan pulang cepat hari ini" Aku mengecup bibir dan keningnya.
*****
Tidak begitu lelah hari ini akhirnya aku bisa pulang sebelum matahari terbit, Maria akan senang melihat ku pulang awal. Rumah terlihat sedikit sunyi Maria tak menyambutku didepan pintu, kali ini pintu kamar tertutup tidak seperti biasanya. Tercium aroma wangi masakan dari dapur aku bergegas kesana pikirku Maria sedang menunggu dimeja makan, tapi ia tak disana.
"Maria.." Aku beranja dari dapur.
Aku memutuskan pergi ke kamar membuka pintu kamar dan betapa terkejutnya diriku pemandangan yang tak biasa dan tak pernah aku lihat sebelumnya membuat jantungku terhenti sejenak.
Maria memakai gaun merah hadiah ulang tahunnya tergelantung dengan tali dileher
yang ia buat dari baju-baju nya terikat pada kayu atap rumah dan membuatnya tak sadarkan diri.
"Aaaaaa MARIA!!!!" aku mengangkat badannya mencoba untuk melonggarkan ikatan dilehernya agar ia bisa bernafas.
"TOLONG!!! TOLONG!!! IBU!!!IBU!!" teriakku tak getir memanggil Ibu mertua disamping rumah, aku tak bisa meninggalkan Maria dengan kondisi seperti ini. Aku meraih kursi disampingku dan menaikinya, memegang tangan Maria berusaha untuk merasakan denyut nadinya. Tak ada denyut nadi, badannya sudah dingin bibirnya pucat pasi. Dia telah tiada, tapi ku coba membohongi hatiku dia masih hidup dan bisa diselamatkan. Tak sanggup menurunkan Maria aku bergegas kerumah Ibu dengan langkah gemetar lutut ku lemas aku hampir jatuh, air mataku mengalir dipipi. Kejadian tersebut bagai mimpi buruk yang nyata membuatku trauma.
Hari terasa sangat panjang aku tak sanggup untuk pergi bekerja Maria telah dikebumikan ia sudah tiada meninggalkan ku dengan kenangannya tidak hanya itu ia juga meninggalkan seribu teka-teki. Maria menulis sepucuk surat yang ia letakkan di bawah bantal,
Suami ku tersayang, maafkan aku. Aku tak mau meninggalkan mu namun aku juga pantas untuk pergi. Aku menyesali perbuatanku, aku sangat berdosa. Aku tak sanggup berkata langsung padamu, aku tidak mau melihat kamu menangis.
Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dariku.
Dimeja ia sempat memasak oreg tempe kesukaanku untuk makan malam, namun aku tak sanggup memakannya.
" Dimakan ya mas, aku tahu kamu lapar." Maria meninggalkan secarik kertas disamping piring.
"Aku tidak lapar Maria, aku ingin kau menemaniku disini" Aku menangis tersedu mencoba untuk melahap masakannya untuk terakhir kali.
Dikamar mandi aku menemukan tes pek bergaris dua, tangan ku gemetar meraihnya. Sedikit lagi kita akan menjadi keluarga yang utuh tapi mengapa ia tega menggantung dirinya. Aku telah kehilangan dua orang yang ku sayangi, aku benar-benar tak bisa melanjutkan hidupku.
Beberapa hari setelah kepergiannya aku meninggalkan rumah itu memilih menetap dirumah orang tauku didesa sebelah. Aku tak bisa bekerja bahkan kekamar mandi saja tidak, aku benar-benar mengurung diriku dikamar masa kecil ku berharap aku tak pernah mengenalnya. Aku menyesal menikahinya karena aku tak pernah bisa membuatnya bahagia, maafkan aku Maria.
Setelah menenangkan diri ku beranikan tubuh ini untuk melangkah memasuki rumah itu, terdiam didepan pintu mengingatkan ku akan Maria yang selalu menyambutku. Aku seperti orang tak waras membuka pintu dan memanggilnya,
"Maria sayang. Aku pulang" Pandangan ku kabur karena air mata. Aku jatuh terkulai lemas diruang tengah bibirku bergetar menahan tangis air mataku jatuh membasahi lantai yang biasa dipijak oleh Maria. Kemana istri tercinta ku sudah beberapa hari ini aku tak melihatnya, dia tidak tahu aku merindukannya.
Seketika kenangan itu menghampiri ku menghembus kencang pikiranku.
Aku mengisi baterai handphone Maria yang terbengkalai tak ada yang menyentuhnya. Kasur terasa dingin karena lama tak ku tiduri aku berbaring memeluk guling berharap air mataku dapat memadamkan api kerinduan.
"Mas..." Maria mengelus rambutku ia memakai gaun merah.
"Maria, aku rindu"
"Aku disini mas. Maafkan aku hiks..hiks..maafkan aku mas"
" Tidak,kau tidak perlu meminta maaf "
Entah berapa lama aku tertidur hari sudah gelap, aku dibangunkan oleh suara adzan yang membuyarkan mimpiku.
Aku mengutak-atik handphone Maria melirik foto-fotonya, menonton videonya. Handphone ini menjadi saksi bisu perjalanan ku dengan Maria. Tiba-tiba mataku terbelalak ketika menemukan foto saleh yang sedang berada di kamar ini, aku tak mengerti mencoba menepis pikiran burukku. Hal yang aneh aku temukan lagi di laman whatsapp nya, siapa nomor tak bernama ini. Mengapa sering kali menelpon Maria.
" Ingat siapa yang membayar uang sekolah mu dulu? Mengapa kau lebih memilih dia dari aku."
" Semua ini sudah berakhir, aku sudah miliknya."
Begitu isi percakapan dalam pesannya, aku semakin curiga pada Saleh mengingat dia adalah mantan pacar Maria.
Aku kembali bekerja untuk menemukan semua jawaban atas temuanku kemarin.
" Makan siang yuk " Saleh meletakkan handphonenya dan membuka pintu mobil.
" Kau saja, aku tidak lapar" Aku mengincar handphone Saleh.
Setelah dia pergi ke kantin aku coba menelpon nomor tak bernama ini, benar saja handphonenya berdering. Aku mengutak-atik isi galerinya sungguh tercengang aku melihat foto Maria tak berbusana lengkap dengan videonya terpampang jelas dibagian awal galeri. Aku menggeretakkan gigiku. Kesal, sedih, kecewa hingga tak percaya semua itu berkumpul di kepala ku.
" Aku hamil, apa yang akan kau perbuat dengan ini "
" Apa? Anak siapa itu?"
" Ini anak mu, Jafar selalu menggunakan pelindung "
Hatiku bagai dicabik-cabik pisau tajam setelah membaca pesan itu di whatsapp Saleh, aku menangis kencang hampir tak bisa bernafas. Bergegas menghampiri Saleh yang masih terduduk apik melahap makan siangnya. Kutarik kerah bajunya didepan orang-orang, kulempar kepalan tanganku berkali-kali pada wajahnya hingga hidungnya berdarah. Ia terduduk heran menatap ku dengan penuh pertanyaan, sok polos.
" KAU APAKAN DIA HAH. DIA ISTRIKU!" aku meneriakinya sambil menangis.
" Dia terlalu cantik untuk pria yang miskin " Saleh pergi meninggalkan kantin.
Aku tak sanggup lagi mengejarnya tubuh ku lemas lutut ku bergetar pandanganku tertutupi air mata. Entah hukuman apa yang pantas ia dapatkan. Aku terduduk lesu di terminal, seperti baru terkena bencana. Hujan mengguyur deras malam ini membuat lampu jalan terlihat sedikit temaram, aku berjalan melewati pasar malam. Berteduh meringkuk menghangatkan badanku samping toko gaun, menangis pelan mengingat semua kenangan indah bersamanya, bercampur dengan perasaan kesalku. Mengapa kau tidur bersama pria kurus itu Maria, ku kira aku satu-satunya.
Arloji ku menunjukkan pukul 2.30, angin malam berhembus mengenai baju ku yang basah membuat ku kedinginan, aku mengambil celurit dari gudang pergi ke rumah si bedebah itu. Memilih melakukan hal yang tidak pernah ku pikirkan sebelumnya dan Mendekam dibalik jeruji besi.

Ghj
BalasHapusKeren banget kak!! Semangat terus kak, cobain bikin novel
Hapus