Winfield Hall Rumah Mewah Dengan Cerita Menarik Di dalamnya
Memiliki rumah mewah merupakan sebuah impian bagi semua orang namun untuk mendapatkannya bukanlah hal yang mudah. Maka dari itu tidak semua orang bisa memiliki rumah mewah hanya orang-orang yang beruntung saja. Ketika melihat orang kaya raya dengan rumah yang mewah sering kali kita berfikir bahwa kehidupannya pasti bahagia, bagaimana tidak mereka yang dipenuhi dengan harta dan kejayaannya pastinya bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan mudah. Namun nyatanya tidak semua orang kaya memiliki waktu untuk menikmati kehidupannya, seperti Frank Winfield Woolworth yang membangun rumah mewah seharga puluhan juta dollar. Sayang ia hanya memiliki waktu sedikit untuk menempati rumah mewahnya itu. Penasaran dengan kisahnya yuk simak rangkaian sejarah dibawah ini.
Winfield hall dibangun dan dirancang oleh Frank Winfield Woolworth seorang arsitek dan enterpreneur sukses Amerika yang kaya raya pada tahun 1915. Sebelum membangun rumah megah ini Frank telah terlebih dahulu membangun gedung Woolworth yaitu gedung pencakar langit di Amerika dan ia juga memiliki toko yang dikenal sebagai 'Five and dimes' Yaitu toko yang menyediakan barang dagangan yang murah. Winfield Hall hanya sedikit lebih murah dari gedung yang ia bangun. Frank menghabiskan sekitar $10 juta untuk membangun winfield Hall ditambah dengan tangga marmer seharga $2 juta. Jika dirupiahkan bisa lebih dari 50 miliyar, bayangkan saja bagaimana mewahnya winfield Hall kala itu. Bahkan langit-langit rumahnya dilapisi emas 24 karat.
Winfield Hall terdiri dari 9 kamar tidur, 10 kamar mandi, 16 perapian ditambah perpustakaan, ruang belajar, ruang musik, ruang makan formal, ruang Billiard, ruang serba guna dan lorong rahasia.
Sebelum membangun winfield Hall Frank membeli rumah ditanah tersebut pada tahun 1913 untuk menyimpan karya seninya. Hingga suatu ketika rumah itu terbakar secara misterius, sejak saat itulah ia berencana membangun rumah megah dari marmer untuk melindungi ketiga putri dan istrinya yang dikenal dengan nama winfield Hall.
Obsesi Frank terhadap Napoleon menjadikannya inspirasi dari setiap interior yang ada di winfield Hall. Mulai dari lantai, perabotan hingga langit-langitnya bernuansa Francis tempat asal Napoleon. Bahkan Ia pernah menyebut dirinya sebagai reinkarnasi hidup dari Napoleon. Frank juga mengoleksi baju-baju seragam yang pernah dipakai oleh Napoleon dan ia juga memiliki kasur yang pernah dipakai oleh Napoleon dengan dekorasi emas 14k. Dilantai dua winfield hall terdapat kamar untuk menghormati periode Dinasti Ming, periode Elizabethan, Louis XIV dan Marie Antoinette.
Pada suatu malam di tahun 1917 Frank sedang mengadakan pesta besar dirumahnya tiba-tiba badai datang entah darimana dan petir menyambar tembok dalam rumah melalui jendela yang terbuka. Sambaran petir itu mengenai dinding yang terdapat ukiran wajah ketiga putrinya yaitu Jesse, Edna dan Helena Akibatnya ukiran wajah Edna retak. Dimalam yang sama Edna meregang nyawa di Plaza Hotel meneguk racun, diketahui Edna terpukul setelah mengetahui suaminya Franklyn Laws Hutton memiliki wanita simpanan. Beberapa orang berpendapat jika Edna meninggal karena infeksi jamur di telinganya dan mati lemas. Ada juga yang mengatakan bahwa Edna meninggal di kamar Marie Antoinette. Sedihnya Barbara Hutton anaknya yang kala itu hanya berusia empat tahunlah yang menemukan jasad ibunya.
Tak lama setelah itu pada tahun 1919 Frank menghembuskan nafas terakhirnya di kamarnya akibat keracunan septik dari gigi yang terinfeksi. Terkenal dengan sikapnya yang tak begitu peduli dengan keluarga Frank tidak sempat membuat surat wasiat, hal itu yang menyebabkan semua harta kekayaannya jatuh pada Jennie Woolworth istrinya. Namun jennie tak bisa menggunakan semua harta warisan suaminya itu karena ia menderita penyakit gangguan jiwa dan demensia dini. Dengan begitu warisannya diserahkan pada Barbara Hutton cucunya, hal ini tentunya menjadikan Barbara sebagai salah satu wanita terkaya di dunia. Pada masanya ia sangat terkenal dan disegani namun malangnya ia tak memiliki siapa-siapa lantaran ayahnya juga mengabaikannya.
Memegang predikat sebagai ahli waris Frank W. Woolworth, nyatanya tidak membuat kehidupan Barbara menyenangkan. Pasalnya ia sering kali dimanfaatkan oleh para pria yang hanya mencoba untuk mendapatkan hartanya, hingga ia telah menikah sebanyak tujuh kali. Banyaknya tekanan dalam hidupnya Barbara sering bersembunyi dibalik obat-obatan, alkohol dan pesta-pesta. Meski begitu banyak orang yang iri pada kekayaannya dan parasnya yang rupawan.
Winfield Hall sempat kosong selama beberapa tahun dikala Barbara memutuskan tinggal di Inggris. Hingga seorang wanita bernama Julia Louise Parham membelinya, ia tinggal disana seorang diri dengan para pembantu dan tukang kebunnya. Diceritakan Julia sering mendengar seorang wanita menangis di kamar Marie Antoinette, sejak saat itulah ia memutuskan untuk mengunci kamar itu. Pada akhirnya Julia memutuskan untuk pindah dari sana karena ia merasa rumah itu terlalu besar baginya yang tinggal seorang diri.
Hingga akhirnya pada tahun 1963 Grace Downs membeli rumah itu dan dijadikannya sebagai Grace Downs Academy yaitu sekolah model dan pramugari yang beroperasi sekitar tahun 1963 hingga 1976. Disinilah desas-desus akan munculnya penampakan makhluk tak kasat mata terdengar. Dikatakan Frank yang meninggal di tempat tidurnya tidak pernah benar-benar meninggalkan rumah itu.
Konon beberapa orang pernah melihat penampakan seorang pria memakai seragam Napoleon, mengingat kebiasaan Frank yang memang sering mengenakan seragam itu. Namun tak ada yang tahu pasti apakah itu Frank atau bahkan benar-benar Napoleon.
Isu-isu juga mengatakan mereka pernah mendengar suara tangisan dari kamar Marie Antoinette di tengah malam. Lagi-lagi tidak ada yang tahu pasti apakah itu arwah Edna yang di isukan menghabisi nyawanya disana atau memang sosok asli dari Marie Antoinette.
Dikatakan seorang sekretaris yang menempati kamar Marie Antoinette mendengar suara tangisan wanita di tengah malam, disusul beberapa minggu kemudian sang sekretaris itu meninggal akibat serangan jantung.
Cerita juga datang dari seorang siswa yang menyelundupkan kekasihnya dan bermalam dikamar itu mendengar suara tangisan yang sama, setelah itu mereka meninggal karena kecelakaan mobil.
Hingga pada tahun 1976 Grace melelang Winfield Hall beserta perabotannya namun tak kunjung mendapatkan pembeli dan berniat untuk menghancurkan rumah mewah itu. Untungnya Segera setelah itu Martin Carey seorang pengusaha yang juga merupakan adik dari gubernur New York saat itu membeli Winfield Hall. Martin Carey yang seorang pengusaha tambang minyak sekaligus ahli pelestarian rumah-rumah mewah mendedikasikan winfield Hall sebagai tempat bersejarah pada masa itu karena arsitektur nya yang luar biasa megah pada zaman kejayaan kota Long Island. Hingga Martin Carey meninggal dunia pada tahun 2020.
Kabarnya winfield Hall sering kali dijadikan destinasi wisata bersejarah selama kepemilikan Martin Carey, namun tidak sembarang orang bisa mendatanginya. Biasanya hanya para arsitek dan penikmat seni itupun harus melalui prosedur izin terlebih dahulu. Bahkan Taylor Swift pernah menjadikan winfield Hall sebagai lokasi syuting untuk video klip lagunya yang berjudul 'blank space' Di tahun 2014.
Itulah sepenggal cerita yang dari Winfield Hall. Belajar dari kasusnya Frank, kita sadar bahwa harta tidak akan dibawa hingga Liang lahat. Dari Barbara Hutton kita belajar bahwa uang bukanlah segalanya, buktinya ia tidak pernah benar-benar bahagia. Apapun yang kalian milik saat ini tetaplah bersyukur, karena bahagia tidak datang dari uang ataupun dari orang. Hanya diri kalian sendiri lah yang memutuskan untuk bahagia atau tidak.




Komentar
Posting Komentar