Cerpen: Sepasang Kekasih dan Hutan Belantara
" Kau tidak punya pengalaman untuk pergi ke hutan, bagaimana jika tersesat "
" Biarlah aku tersesat dan mati kelaparan, aku sudah tidak sanggup menjalani hidup"
Liz bersikukuh untuk berlibur ke hutan belantara dinegeri sebrang hingga pada akhirnya meluluhkan hati kekasihnya.
****
Hari mulai gelap pohon demi pohon telah dilalui, mereka beristirahat ditanah yang sedikit luas tanpa pepohonan. Menyalakan senter dan menyantap persediaan terakhir makan malam mereka.
" Aku tahu ini berat bagi mu, tapi aku tak ingin melihat mu menangis seperti ini " Beckel merangkul pundak Liz dan menatapnya dengan penuh perhatian.
" Kau tidak pernah mengerti karena kau anak tunggal " Liz tak hentinya menangis dan mengusap air matanya.
Malam semakin dingin menusuk hingga tulang rusuk, Liz tertidur pulas di paha kekasihnya.
****
Melangkah dengan berat diiringi terik mentari yang menyengat kulit membuat Liz dan Beckel semakin kehausan. Mereka sudah kehabisan persediaan makanan.
" Kita harus temukan sungai, aku sudah tak tahan lagi " Liz duduk terkulai ditanah.
"Cairan di tubuhku habis menjadi keringat" Beckel bersandar dipohon mengusap keningnya.
Berjalan kearah timur berharap menemukan sumber mata air, jalanan curam membuat Liz terpeleset ke jurang yang cukup dalam.
"Beckel!" Teriaknya ia menggenggam akar pohon yang menjuntai kebawah, menunggu Beckel meraihnya.
"Tahan, aku akan kesana" tak ada alat yang bisa digunakan dari ranselnya Beckel mengulurkan tangannya mencoba meraih tangan Liz.
Namun Liz tak berada di jangkauannya, Beckel pun terjatuh ke dasar jurang dengan kedalaman dua puluh meter.
"Ya Tuhan, Beckel. Bangun! Bengkel! Please.." Liz menurunkan badannya perlahan dan memastikan Beckel baik-baik saja.
Kaki dan pergelangan tangannya terkilir ringan, Liz merobek sedikit dari bagian bajunya untuk mengikat pergelangan tangan Beckel menggunakan ranting pohon.
"Kau dengar itu? Ayo berjalan sedikit lagi!"
Terdengar suara aliran sungai dari kejauhan, mereka menyusuri jurang. Dengan tertatih-tatih Beckel berjalan menahan sakit diseluruh tubuhnya.
****
Serangga-serangga berterbangan disekitar hutan hinggap dan membuat mereka gatal-gatal. Tepat saat matahari terbenam mereka berhasil menjumpai sungai.
"Ahh akhirnya" Liz mengambil air dikedua telapak tangannya dan meminumnya.
Ia juga menyodorkan Beckel air itu.
Suara jangkrik saling bersahutan Liz dan Beckel memutuskan untuk tidur didekat sungai.
" Dingin sekali malam ini, beckel apa kau tidak lapar?"
" Tidak diragukan lagi. Besok kita cari ikan "
" Biar ku pijat kakimu "
" Tidak Terimakasih,,arhghh kenapa kau melakukan itu" Beckel terperanjat duduk kesakitan.
" Opps! Maafkan aku" Liz terkejut melihat ekspresi Beckel.
****
Liz bersiap menghadap sungai untuk mencari ikan sembari membawa ranting pohon yang dipahat runcing oleh Beckel.
" Kau yakin dengan ini?"
"Yeah jangan khawatir" Liz menuruni sungai dengan perlahan matanya jeli menyapu sekitar pijakan kakinya, tak terlihat ikan.
Langkah nya memberat air sungai sudah setinggi pinggangnya.
" Jangan terlalu jauh " Teriak Beckel.
Liz melemparkan ranting runcing itu pada ikan yang melewatinya namun meleset hingga berkali-kali, melihat kekasihnya sedikit kewalahan Beckel menghampirinya.
" Berikan ranting nya padaku, kau lelah. Biar aku yang menangkap ikannya "
" Tetap disana, kau sedang sakit."
Beckel turun ke sungai dan mengambil alih ranting runcing dari Liz.
" Kau bisa beristirahat,Liz "
Tak satu pun ikan yang berhasil mereka tangkap tenaga mereka sudah terkuras habis. Perut mereka kembung oleh air sungai.
" Bagaimana cara kita keluar dari sini, aku sudah tak tahan" Liz berbaring diatas bebatuan sungai.
"Bagaimana jika kita membuat rakit untuk menyebrangi aliran sungai ini"
" Ayo kumpulkan batang pohon untuk dibuat rakit " Liz bergegas masuk kehutan tak ingin menunggu lama.
Rakit yang mereka buat pun jadi Beckel menegaskan bahwa mereka harus menunggu hingga esok pagi untuk menyebrangi sungai. Tapi Liz tak sabar menunggu ia benar-benar tak tahan ingin pulang.
" Aku belum menyelesaikan tugas akhir smester ku, aku tak ingin terlambat "
" Kau kira aku bisa bolos bekerja?"
****
Mereka menerjang aliran sungai yang cukup deras hingga tak perlu susah payah mendayung.
"Yeay kita akan pulang. Aku ingin makan pizza, bagaimana dengan mu Beckel" Sorak ria Liz.
" Tidak tahu" Beckel terlihat cemas ia mengkhawatirkan hal buruk akan menimpa mereka.
Tak disangka rakit yang mereka naikki terguling dan membuat mereka hanyut terbawa aliran sungai.
" Liz..liz...li..." Beckel memfokuskan matanya pada Liz yang ikut terhanyut, ia berusaha berenang mengikuti arus mendekati Liz yang berada didepannya
"Be..bek..beckel" Teriak Liz, ia tak bisa berenang dengan arus yang begitu kuat dan menenggelam kepala.
Sungai terus mengalirkan mereka hingga sampai pada aliran yang cukup tenang, Beckel berhasil meraih Liz. Ia menggendong kekasihnya itu ke tepi sungai. Liz tak sadarkan diri kepalanya berdarah terbentur batu. Beckel menekan dada Liz dan memberikannya nafas buatan.
"Ayo lah Liz, bangun"
Begitu banyak air yang keluar dari mulutnya wajahnya pucat pasi, Liz siuman.
"Ya Tuhan, kau membuatku cemas" Beckel mengecup pipi Liz dan memeluknya.
****
Hutan mulai gelap kini mereka benar-benar tidak membawa apapun hanya menyisakan baju yang mereka pakai. Tak ada senter untuk menerangi malam ini.
"Seharusnya aku tak mengajakmu kesini" Liz duduk memeluk kakinya.
" Kau pergi kesini untuk bunuh diri, bukan. Aku tidak akan membiarkan mu mati sendirian" Beckel memeluk Liz dan merapikan rambutnya yang terurai.
Liz menatap Beckel dengan linangan air mata.
" Aku selalu berdoa agar aku tidak mati karena bunuh diri, aku tahu itu tidak benar. Aku benar-benar dihantui rasa bersalah" Liz mengepalkan tangannya ia menggigit bibirnya menahan tangis.
"Shhh.. Itu bukan salah mu,Liz. Kematian ada ditangan Tuhan, kecelakaan memang bisa dicegah tapi takdir tidak. Bahkan kau tak bisa menyalahkan orang yang bunuh diri"
" Jika aku bunuh diri, kau akan terus mengirimkan doa untuk ku. 'Kan?
" Kau tidak akan mati karena itu, percaya padaku "
" Aku akan mati karena tersesat, iya bukan?" Liz tersenyum.
" Ayo tidur, kita cari jalan keluar besok "
" Kenapa tidak ada bintang malam ini" Liz berbaring disamping Beckel memandang langit malam yang kesepian tanpa bintang.
****
Liz dibangunkan oleh suara helicopter yang melintas diatas mereka.
" Beckel ada helicopter! TOLONG...TOLONG...TOLONG!!" Liz meloncat-loncat dan melambaikan tangannya.
" TOLONG!..TOLONG!.." Beckel yang baru terbangun pun serontak berteriak.
Namun helikopter itu terbang terlalu tinggi membuatnya tak dapat melihat Liz dan Beckel.
Liz tertunduk lemas di bibir sungai ia menangis.
" Aku merindukan adikku, dia selalu ingin pergi hiking tapi aku tak pernah mendengarkan nya"
" Aku bisa merasakan mu" Beckel memeluk Liz.
****
Hujan mengguyur hutan dengan deras menembus celah dedaunan diatas mereka, membuat pandangan mereka terbatas.
" Sudah berapa jauh kita berjalan. Aku sangat lelah"
" Sekitar 3km kurang lebih, kita istirahat disini saja" Beckel duduk dibawah pohon rindang yang cukup melindungi mereka dari hujan.
" Ketika aku kecil, aku selalu mengajak Clara untuk bermain dibawah hujan. Kita menggunakan jas hujan dan membawa ember kecil. kita menunggu pelangi"
Liz menikmati air hujan yang jatuh ke telapak tangannya, air matanya tersamarkan oleh hujan. Beckel tersenyum tipis memandangi mata Liz yang sembab.
" Apakah di hutan kita bisa melihat pelangi "
"Tentu saja, kau akan melihat pelangi nanti, Liz"
Hujan pun reda dedaunan yang semula kering menjadi basah berbulir air Liz dan Beckel berusaha untuk melanjutkan perjalanannya menemui jalan keluar. Berjalan dengan tujuan namun tanpa arah, mereka benar-benar Liz benar-benar kehilangan harapan.
" Aku sudah tidak kuat lagi"
"Tenang sayang, aku akan mengeluarkan mu dari sini. Sabarlah, diakhir bulan aku akan mengajak mu liburan"
"Jangan liburan ke hutan, aku trauma. Aku ingin ke pantai"
Beckel menyetujui permintaan kekasihnya tersebut, mereka terus berjalan tanpa henti tanpa arah tanpa makanan tanpa tenaga. Hingga pada akhirnya Liz terjatuh lemas di tanah.
"Liz kau baik-baik saja?" Beckel membalikkan badan mendengar suara Liz terjatuh.
" Aku haus. Sepertinya kita harus kembali ke sungai " Liz terduduk lemas tenggorokannya kering.
Sudah lebih dari setengah perjalanan tidak mungkin bagi mereka untuk kembali ke sungai mereka tidak memberi tanda jalan yang sudah dilalui, akhirnya Beckel memutuskan untuk menunggu malam disini.
Terbaring diatas dedaunan kering dibawah pepohonan rindang, diselimuti udara dingin dan gelapnya hutan dikala malam. Mereka tidak pernah menyangka akan hal ini sebelumnya.
Beckel terus memandangi langit tanpa bintang, ia tak bisa tidur dengan perut kosong sedangkan Liz terlelap merajut mimpi.
****
"Maafkan kakak,Clara. Kamu dimana sekarang kakak ingin melihatmu. Semua orang menyalahkan kakak, kakak ingin bertemu." Liz menangis memandangi pohon seakan-akan ia berbicara padanya.
Beckel terbangun dari tidurnya dan melihat kelakuan aneh Liz itu, ini bukan kali pertamanya. Liz memang terlihat sangat kacau belakangan ini.
"Liz, kau berbicara dengan siapa?"
"Aku bodoh! Aku bodoh! Aku bodoh" Liz memukuli kepalanya dan membentur kannya ke pohon.
"Liz! Berhenti! Liz...jangan lakukan itu. Liz apa kau gila!" Beckel menariknya dan mencoba menghentikan perbuatan Liz.
"Jika saja aku tidak menyuruhnya untuk pergi, mungkin dia tidak akan mati"
" Kecelakaan itu bukan kehendak mu, itu bukan salahmu, jangan lukai dirimu aku sayang padamu " Beckel memeluk Liz yang mulai tenang.
"Aku merindukan nya, aku ingin bertemu dengan nya"
" Kau harus merelakannya, clara sudah tenang disana."
*****
Malam demi malam mereka lalui tanpa makanan dan air, Liz dan Beckel berusaha melindungi satu sama lain. Tidak ada suatu pun yang tersisa bagi mereka, hanyalah memiliki satu sama lain. Setelah mereka mencoba memutar arah kembali ke sungai namun mereka tak pernah menemukan sungai itu lagi.
" Aku rasa kita berputar kearah yang salah "
" Sudahlah, Liz. Kita menunggu hujan datang saja. Malam ini tak terlihat bintang mungkin akan hujan "
Mereka terbaring di atas dedaunan kering memandangi langit malam.
Hewan hingga buah-buahan tak ada yang mereka jumpai, hingga pagi itu mereka melihat ular.
" Shit, Beckel " Ular itu melewati kaki Liz, dia panik dan meloncat ketakutan.
" Tenang, hey Liz jangan berlari " Liz berlari menjauhi ular yang mengikutinya Beckel pun ikut berlari, ia membawa ranting pohon untuk mengusir ular itu.
Mereka berlari terbirit-birit tak terarah hingga pada akhirnya ular itu pergi begitu saja.
Malam hari tiba namun hujan yang Beckel tunggu pun tak kunjung datang, Beckel bersandar di pohon dengan Liz yang duduk didepannya.
" Jika saja aku tak menyuruh Clara untuk membelikan ku makan malam, mungkin dia disini bersama kita "
" Jika Clara tidak meninggal, kau tidak akan pergi ke hutan ini Liz. Clara mengantarkan kita ke sini"
Lelah dengan harinya mereka memutuskan untuk beristirahat berbaring ditengah rindang nya hutan belantara diselimuti kedinginan malam. Liz meniduri tangan Beckel dan memandangi langit dengan gemerlap bintang yang memantulkan cahaya pada matanya.
" Berarti kita tidak akan mendapatkan hujan itu, dan tidak bisa melihat pelangi."
" Kau tidak akan bisa melihat pelangi,Liz. Karena kau adalah Pelangi itu"
Terlihat sedikit guratan senyum dibibirnya, Liz tersipu malu.
" Entah berapa kali aku harus meminta maaf karena membuat mu tersesat "
" Ini bukan hal yang besar, Jauh sebelum aku tersesat di hutan aku sudah terlebih dahulu tersesat dalam hatimu."
" Aku tersesat dalam hidupku, dan kau menemukan ku"
Malam berbintang ini tak bisa mereka lewatkan dengan begitu saja, Liz dan Beckel tak kunjung terpejam mereka terus berbicara tentang masa depan.
" Setelah kita keluar dari sini, aku akan melamar mu Liz" Beckel memeluk Liz dari belakang sembari berbaring Ia menghangatkan tubuh Liz yang sedari tadi kedinginan.
Liz diam tak bergeming bibirnya rapat dengan seribu senyum terlukis dihatinya.
" Kau akan memberiku buah hati?"
" Tentu saja, berapa banyak anak yang kau inginkan "
" Sebanyak-banyaknya " Liz tersenyum membalikkan badannya dan mengecup bibir Beckel.
" Dingin sekali aku tidak bisa merasakan tanganku " Liz mengepalkan tangannya, jari-jarinya dingin.
" Bayangkan saja kita sedang berada di pantai dengan matahari yang terik tanpa ada pepohonan rindang." Beckel menggosok-gosokan tangan Liz dan meniupnya.
"Aku ingin punya rumah didepan pantai"
"Iya kita akan membuatnya"
" Yang besar karena anak kita banyak " Tambah Liz.
Mereka tertawa ria membayangkan seperti apa mereka dimasa depan.
Suara gemuruh helikopter terdengar dari kejauhan perlahan mendekati mereka. Pasukan tim penyelamat berbaju oren turun menggunakan tali tangga. Liz dan Beckel terbujur kaku berpelukan saat tim penyelamat mendekati, dengan perlahan memasukkan Liz dan Beckel kedalam kantong jenazah.
Hutan terasa sepi tanpa pijakan mereka namun mereka hidup abadi dengan hutan ini.

Komentar
Posting Komentar